“Surat Terbuka Warga Desa sehkono: Agustus, Kok Gini Amat?”

Oleh: Warga biasa yang hatinya tidak dibakar obor, tapi dibakar rindu lomba makan kerupuk
________________________________________
Dulu waktu kecil, setiap bulan Agustus tuh meriah banget. Kita sampai ribut rebutan lomba: dari panjat pinang yang lebih licin dari mantan yang PHP, sampai lomba joget balon yang kadang ending-nya jadian. Sekarang? Yang ramai cuma grup WhatsApp RT, itu pun isinya debat soal nunggak hutang 3 bulan akan di ambil alih oleh negara. (eh Cuma angan2 saja lho ini).
Saya masih inget, tahun 2024 itu terakhir kali lomba tarik tambang digelar. Waktu itu si Pak RT bilang, “Tahun depan kita bikin lebih heboh!” Tapi ya Allah, 2025 ini yang heboh malah cicilan saya.
Kami, para pemuda desa Sehkono, udah coba protes halus. Kami pasang status WhatsApp:
“Kangen aroma terigu di wajah waktu lomba makan kerupuk ”
Nggak ada yang respon. Yang ada malah ditanya,
“Mas, jualan donat ya sekarang?”
Akhirnya kami bikin rapat kecil. Lokasinya di warung Mbok Sarmi, karena selain ada wifi, di sana juga ada kopi 2 ribuan dan gorengan yang belum naik harga sejak zaman Sumpah Pemuda.
Hasil rapat kami jelas:
“Bila perlu, 17-an ini kita bikin sendiri!”
Kami rencanakan lomba-lomba berikut:
• Lomba balap sandal jepit (syarat: sandal harus bekas wudhu)
• Lomba masak mi instan pakai rice cooker
• Lomba teriak “MERDEKA!” paling keras tanpa dimarahin tetangga
• Lomba update status paling nasionalis (yang menang dapat pulsa)
Tapi apalah daya, pas kami izin ke Pak RW, beliau cuma menjawab singkat sambil mengaduk kopi:
“tahun e tahun pagebluk, ngirit sek…”
Kami paham sih, desa butuh hemat. Tapi mbok ya… masa lomba yel-yel aja gak ada? Masa cuma bendera yang dikibar, tapi semangatnya ngumpet?
Jadi, tulisan ini adalah unek-unek kami, anak muda desa Sehkono yang rindu tawa-tawa Agustusan, bukan sekadar upacara formal yang habis itu langsung bubar jalan. Kami ingin suasana. Kami ingin lomba. Kami ingin kenangan.
Atau setidaknya, kami ingin alasan untuk makan kerupuk rame-rame tanpa dianggap aneh.
Salam Merdeka,
Pemuda Desa Sehkono, yang tahun ini lombanya cuma lomba menahan kecewa.




