Pak Man dan Rindu Dolanan Tradisional di Tengah Maraknya Gadget

Di beranda rumah kayu yang mulai rapuh dimakan usia, Pak Man duduk bersila, kedua tangannya merangkul lutut. Tatapannya kosong menembus halaman yang sore ini diterangi cahaya matahari kuning keemasan. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat jelas lapangan kecil di depan rumah, tempat yang dulu selalu penuh oleh tawa anak-anak desa.
Pak Man masih ingat betul—dulu setiap sore, sebelum matahari tenggelam di balik pepohonan, anak-anak berlarian tanpa alas kaki, bermain gobak sodor, bentengan, atau egrang dari bambu. Suara teriakan “awas kena garis!” atau “lindungi bentengnya!” berpadu dengan deru napas yang ngos-ngosan. Tak jarang ada yang jatuh dan menangis sebentar, lalu kembali tertawa lebar, melanjutkan permainan.
Masa kecil waktu itu sederhana, tapi kaya akan cerita. Batu kecil bisa menjadi gaco untuk bermain kelereng, batang bambu bisa jadi egrang, bahkan tutup botol bekas pun bisa berubah menjadi mainan balap. Tak ada kata bosan, karena imajinasi mereka adalah bahan bakar utama.
Namun sore ini, yang terdengar bukan lagi suara riuh permainan. Halaman itu sepi dari lompatan kaki dan deru napas. Anak-anak desa memang masih berkumpul, tapi duduk berjejer, kepala menunduk, mata terpaku pada layar gadget. Jemari mereka menari cepat di atas kaca, sesekali tertawa kecil ketika memenangkan permainan di dunia maya.
Pak Man tersenyum tipis, tapi hatinya terasa berat. Ia tahu, zaman memang berubah. Ia tidak marah pada gadget, karena ia paham itu bagian dari kemajuan. Namun, ada rasa kehilangan yang tak bisa ia sembunyikan. Kehilangan momen ketika anak-anak belajar bersosialisasi tanpa sinyal internet, kehilangan suasana ketika tawa dan jerit gembira memenuhi udara desa.
Kadang, Pak Man ingin sekali mengajak mereka mencoba satu permainan saja—misalnya gobak sodor atau egrang. Tapi ia ragu, takut mereka menganggapnya kuno. Ia hanya bisa berharap, suatu hari nanti akan ada yang menghidupkan kembali dolanan tradisional itu. Karena menurutnya, masa kecil yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa mengingat tawa bersama teman-teman, tanpa baterai, tanpa kuota, dan tanpa harus duduk diam.
Sore semakin merayap menuju senja. Angin membawa aroma padi dari sawah, sama seperti puluhan tahun lalu. Pak Man menghela napas, lalu tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. “Siapa tahu,” batinnya, “besok atau lusa, halaman ini kembali penuh oleh teriakan dan tawa yang pernah ada.”




